saat ku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin ku lihat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu
Reff:
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik satu untukmu
Repeat Reff
Kaulah yang terbaik untukku
Ku percayakan seluruh hatiku padamu
Kasihku satu janjiku kaulah yang terakhir bagiku
Kamis, 08 Maret 2012
Selasa, 06 Maret 2012
Hanya Karena Berbeda Agama ?
Niatnya sih pengen ngerjain laporan, tapi keasikan searching di dunia maya. Eh nggak sengaja menemukan link yang yaaaa bisa dibilang kisah yg pernah ada di hidupku. Dulu. Namun kenangannya akan selamanya.
(http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/11/23/hanya-karena-berbeda-agama/)

“Udah lama ya, Gil?” Sapanya ringan tapi mengagetkanku.
“Ragil Kurniawan! 3 tahun kenal tetap aja panggil Gil Gil, Gila! Enggak, aku juga baru nyampe kok.” Aku menjawab pertanyaannya.
“Sensi banget! Laper ya? Eh, ada rumah makan bakmi di dekat gerejaku. Kata temenku enak lho. Coba yuk! Aku yang traktir!” Dia mengajakku dengan semangat.
“Boleh. Kalau aku nambah, kamu bayarin juga kan?”
“Iyadeh. Makan sekalian sama piring-piringnya deh ya!”
“Sekalian sama gerobak deh.”
“Ih, cepet ah! Aku laper!” Dia memasang tampang cemberut sambil menaiki motorku. Cuma dia satu-satunya wanita yang mungkin tidak malu menaiki motor tua dengan pengendara acak-acakan seperti aku ini.
“Semua bakmi ya rasanya kayak gini!”
“Sstt.. frontal banget sih!” Dia menarik hidungku sampai merah. Sakit!
“Lebay! Baru ditarik pake tangan kan, bukan pake garpu bangunan!”
“Sangar banget sih!” Aku membalas menarik hidungnya tapi dia malah tertawa. Aku menikmati suasana ini, suatu saat mungkin aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh, aku ingin menjadikan dia sesuatu yang satu-satunya kulihat saat bangun pagi, tapi kita berbeda, bumi dan langit. Sesuatu yang kita yakini, agama, malah menjadikan kita terasa benar-benar berbeda.
“Jemput Bianca lagi ya?” Suara mama yang tinggi mengagetkanku.
“Iya,Ma.” Aku menjawab pendek.
“Kamu tuh gak ngerti ya kalau mama bilangin! Selesai sholat Ashar, langsung pulang! Gak usah kelayapan dan sok-sokan baik jemput-jemput Bian! Emang dia mau ngasih apa kalau kamu jemput? Emang dia siapa sampe kamu repot-repot buat jemput?”
“Berbuat baik kan gak salah,Ma.”
“Mama gak suka liat kalian sering-sering berdua. Kamu ngapain sih deket-deket sama dia? Mending kamu cari wanita yang lebih pantas, seagama, jilbaban, terus kenalin ke mama. Gitukan lebih baik!”
“Tapi, Ma. Seharusnya agama itu tidak mengkotak-kotakan!” Aku berkata kepada ibuku dengan nada tinggi, kesal.
“Kalian berbeda agama. Beda cara beribadah, berbeda pula siapa yang kalian sembah. Begitu pula dengan ideologi hidup kalian! Agama berbeda maka berbeda juga tujuan hidup di dunia ini. Kalian tidak akan bersatu! Alam semesta mau sesuatu yang seimbang, bukan sejoli angkuh seperti kalian!” Ibuku menghujani perkataan yang membuat aku tambah kesal, hatiku sakit, teriris.
“Tuhan itu cuma satu! Hanya cara-cara menyembah-Nya saja yang berbeda!” Aku berjalan, membanting pintu kamar. Amat sangat kesal.
“Maaf ya, Gil. Aku mau pulang sendiri. Tapi, nanti malam kita ketemu di tempat biasa ya. Aku mau membicarakan sesuatu dan itu butuh tempat sepi.” Nadanya menyimpan banyak perasaan getir. Aku takut.
“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda.” Dia berbicara dan menatapku, dalam.
“Tapi kok aku gak merasa Dia bahagia? Aku ke masjid, kamu ke gereja. 8 tahun kita menjalani itu semua, tapi orang-orang sekitar menganggap kita bodoh. Mereka menertawakan dua orang berbeda keyakinan yang sering menghabiskan waktu bersama, berdua. Bukan untuk berzinah tapi untuk meyakinkan pada dunia bahwa perbedaan bukan alasan untuk tak saling mengasihi. Mereka bilang kita pacaran, tapi jutaan kali kita mengatakan sahabatan. Ah.. Sahabatan. Status yang selalu membuatku sesak. Padahal, aku begitu menyayangimu, Bi. Bahkan saat mereka menganggap kita berdua bodoh!” Aku berkata dengan segala kesesakan yang aku rasa. Lega.
“Aku juga sayang sama kamu, Gil. Ini yang selalu membuatku semakin sesak saat ngelihat mata kamu. Harusnya dunia gak sekeras ini sama kita.” Dia berkata dengan penuh kejujuran, aku merasa sesak.
“Mungkin ini akan ngagetin kamu, bulan depan aku akan mengikuti seminari suster. Seumur hidupku akan ku berikan untuk melayani Tuhan. Aku udah mikirin ini jauh-jauh hari, jadi jangan tanya kenapa karena pasti jawabannya akan benar-benar panjang!” Dia berkata dengan perasaan resah dan gundah, seperti tidak yakin bahwa dia bisa melakukan hal itu.
“Kamu yakin?”
“Keyakinan itu bisa datang karena terbiasa dengan mengerti apa yang diyakinki. Aku gak yakin bisa ninggalin semua, termasuk kamu…” Dia berkata dengan mata memerah, menahan tangis.
“Kamu akan menemukan tulang rusukmu, Gil, yang jelas bukan aku. Kamu akan menemukan yang terbaik, lebih baik daripada aku.”
Aku terdiam, tidak bisa menahan air mata itu. Aku terlihat seperti lelaki bodoh, menangis di depan wanita yang aku cintai dan begitu berarti.
“Aku mungkin bakal kangen sama kamu. Tapi aku gak harus terenyuh dan terlalu memikirkan kangen itu,Gil. Kamu dan aku akan baik-baik saja.”
Aku tidak bisa berhenti menatap matanya yang benar-benar merah. Dia benar-benar ingin menunjukan padaku bahwa dia adalah wanita yang kuat.
“Pulang yuk, udah malam.” Dia menarik lengan bajuku, pertanda agar aku segera menaiki sepeda motorku.
Akhirnya kami pulang dan masih menyimpan banyak sakit. Tuhan belum puas membunuhku dengan harapan-harapan kosong yang aku buat sendiri.
Butir-butir air membasahi tanganku. Hujan! Walaupun masih rintik-rintik. Aku takut, Bian kehujanan. Butir-butir hujan itu semakin bertambah, rintik-rintiknya menjadi deras. Dingin, aku merasa begitu dingin. Dari belakang, dia menggenggam bahuku. Memelukku dengan erat. Jika seperti ini, aku ingin merasa terus kedinginan, agar dia bisa terus memelukku. Pertama kali dan terakhir kali dia memelukku, sebelum aku mengikhlaskannya sebagai kekasih Tuhan.
With love :)
(http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/11/23/hanya-karena-berbeda-agama/)
“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda”
Seusai sholat Ashar, aku menjemput dia di gereja. Aku menunggu di depan gereja bersama motor tuaku buatan sebelum masehi saat kerajaan Singosari masih berdiri. Tatapanku lekat ke bagian samping gereja. Di sebuah ruangan di samping gereja, ada seorang wanita dengan senyum simpulnya menyalami anak-anak kecil yang keluar dari ruangan itu. Wanita itu bernama Bianca. Wanita yang 3 tahun terakhir ini aku anggap penting, terpenting kedua setelah ibuku. Wanita ini berbeda, Minggu sore biasanya seorang wanita menghabiskan sisa weekend mereka dengan “gentayangan” di berbagai trade center, tapi Bianca menghabiskan Minggu sorenya untuk mengajar anak-anak sekolah minggu di gerejanya. Dia menyayangi anak-anak seperti aku menyayangi dia atau mungkin sangat amat menyayangi.“Udah lama ya, Gil?” Sapanya ringan tapi mengagetkanku.
“Ragil Kurniawan! 3 tahun kenal tetap aja panggil Gil Gil, Gila! Enggak, aku juga baru nyampe kok.” Aku menjawab pertanyaannya.
“Sensi banget! Laper ya? Eh, ada rumah makan bakmi di dekat gerejaku. Kata temenku enak lho. Coba yuk! Aku yang traktir!” Dia mengajakku dengan semangat.
“Boleh. Kalau aku nambah, kamu bayarin juga kan?”
“Iyadeh. Makan sekalian sama piring-piringnya deh ya!”
“Sekalian sama gerobak deh.”
“Ih, cepet ah! Aku laper!” Dia memasang tampang cemberut sambil menaiki motorku. Cuma dia satu-satunya wanita yang mungkin tidak malu menaiki motor tua dengan pengendara acak-acakan seperti aku ini.
***
“Bakminya ternyata enak! Aku kira enaknya cuma kata orang-orang aja. Ternyata enak beneran!” Dia berkata dengan penuh keyakinan, untuk meyakinkan otakku mungkin.“Semua bakmi ya rasanya kayak gini!”
“Sstt.. frontal banget sih!” Dia menarik hidungku sampai merah. Sakit!
“Lebay! Baru ditarik pake tangan kan, bukan pake garpu bangunan!”
“Sangar banget sih!” Aku membalas menarik hidungnya tapi dia malah tertawa. Aku menikmati suasana ini, suatu saat mungkin aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh, aku ingin menjadikan dia sesuatu yang satu-satunya kulihat saat bangun pagi, tapi kita berbeda, bumi dan langit. Sesuatu yang kita yakini, agama, malah menjadikan kita terasa benar-benar berbeda.
***
Sesampainya di rumah, aku melihat mama sedang menonton televisi. Aku duduk di samping beliau dan mencium tangannya. Tanpa berkata-kata, aku langsung meninggalkan beliau menuju kamar.“Jemput Bianca lagi ya?” Suara mama yang tinggi mengagetkanku.
“Iya,Ma.” Aku menjawab pendek.
“Kamu tuh gak ngerti ya kalau mama bilangin! Selesai sholat Ashar, langsung pulang! Gak usah kelayapan dan sok-sokan baik jemput-jemput Bian! Emang dia mau ngasih apa kalau kamu jemput? Emang dia siapa sampe kamu repot-repot buat jemput?”
“Berbuat baik kan gak salah,Ma.”
“Mama gak suka liat kalian sering-sering berdua. Kamu ngapain sih deket-deket sama dia? Mending kamu cari wanita yang lebih pantas, seagama, jilbaban, terus kenalin ke mama. Gitukan lebih baik!”
“Tapi, Ma. Seharusnya agama itu tidak mengkotak-kotakan!” Aku berkata kepada ibuku dengan nada tinggi, kesal.
“Kalian berbeda agama. Beda cara beribadah, berbeda pula siapa yang kalian sembah. Begitu pula dengan ideologi hidup kalian! Agama berbeda maka berbeda juga tujuan hidup di dunia ini. Kalian tidak akan bersatu! Alam semesta mau sesuatu yang seimbang, bukan sejoli angkuh seperti kalian!” Ibuku menghujani perkataan yang membuat aku tambah kesal, hatiku sakit, teriris.
“Tuhan itu cuma satu! Hanya cara-cara menyembah-Nya saja yang berbeda!” Aku berjalan, membanting pintu kamar. Amat sangat kesal.
***
Seperti hari Minggu biasanya, selesai sholat Ashar, aku menjemput Bianca di gereja. Selesai menyalami anak-anak sekolah Minggu, dia menghampiri aku yang sedang duduk dimotorku. Dia melipat wajahnya, seperti menyembunyikan sesuatu.“Maaf ya, Gil. Aku mau pulang sendiri. Tapi, nanti malam kita ketemu di tempat biasa ya. Aku mau membicarakan sesuatu dan itu butuh tempat sepi.” Nadanya menyimpan banyak perasaan getir. Aku takut.
***
Di bawah sinar rembulan, aku menatapnya lekat.“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda.” Dia berbicara dan menatapku, dalam.
“Tapi kok aku gak merasa Dia bahagia? Aku ke masjid, kamu ke gereja. 8 tahun kita menjalani itu semua, tapi orang-orang sekitar menganggap kita bodoh. Mereka menertawakan dua orang berbeda keyakinan yang sering menghabiskan waktu bersama, berdua. Bukan untuk berzinah tapi untuk meyakinkan pada dunia bahwa perbedaan bukan alasan untuk tak saling mengasihi. Mereka bilang kita pacaran, tapi jutaan kali kita mengatakan sahabatan. Ah.. Sahabatan. Status yang selalu membuatku sesak. Padahal, aku begitu menyayangimu, Bi. Bahkan saat mereka menganggap kita berdua bodoh!” Aku berkata dengan segala kesesakan yang aku rasa. Lega.
“Aku juga sayang sama kamu, Gil. Ini yang selalu membuatku semakin sesak saat ngelihat mata kamu. Harusnya dunia gak sekeras ini sama kita.” Dia berkata dengan penuh kejujuran, aku merasa sesak.
“Mungkin ini akan ngagetin kamu, bulan depan aku akan mengikuti seminari suster. Seumur hidupku akan ku berikan untuk melayani Tuhan. Aku udah mikirin ini jauh-jauh hari, jadi jangan tanya kenapa karena pasti jawabannya akan benar-benar panjang!” Dia berkata dengan perasaan resah dan gundah, seperti tidak yakin bahwa dia bisa melakukan hal itu.
“Kamu yakin?”
“Keyakinan itu bisa datang karena terbiasa dengan mengerti apa yang diyakinki. Aku gak yakin bisa ninggalin semua, termasuk kamu…” Dia berkata dengan mata memerah, menahan tangis.
“Kamu akan menemukan tulang rusukmu, Gil, yang jelas bukan aku. Kamu akan menemukan yang terbaik, lebih baik daripada aku.”
Aku terdiam, tidak bisa menahan air mata itu. Aku terlihat seperti lelaki bodoh, menangis di depan wanita yang aku cintai dan begitu berarti.
“Aku mungkin bakal kangen sama kamu. Tapi aku gak harus terenyuh dan terlalu memikirkan kangen itu,Gil. Kamu dan aku akan baik-baik saja.”
Aku tidak bisa berhenti menatap matanya yang benar-benar merah. Dia benar-benar ingin menunjukan padaku bahwa dia adalah wanita yang kuat.
“Pulang yuk, udah malam.” Dia menarik lengan bajuku, pertanda agar aku segera menaiki sepeda motorku.
Akhirnya kami pulang dan masih menyimpan banyak sakit. Tuhan belum puas membunuhku dengan harapan-harapan kosong yang aku buat sendiri.
Butir-butir air membasahi tanganku. Hujan! Walaupun masih rintik-rintik. Aku takut, Bian kehujanan. Butir-butir hujan itu semakin bertambah, rintik-rintiknya menjadi deras. Dingin, aku merasa begitu dingin. Dari belakang, dia menggenggam bahuku. Memelukku dengan erat. Jika seperti ini, aku ingin merasa terus kedinginan, agar dia bisa terus memelukku. Pertama kali dan terakhir kali dia memelukku, sebelum aku mengikhlaskannya sebagai kekasih Tuhan.
With love :)
Minggu, 26 Februari 2012
Mereka tidak memaksa untuk "tampil", tetapi mereka bisa "tampil" dengan sendirinya. Ya hanya dengan apa adanya mereka.
Nggak ada orang yang pengen jatuh di lubang yg sama. Ketika kita pernah disia-siakan ataupun menyia-nyiakan sesuatu, tentu aja kita nggak pengen mengulangnya lagi. Itulah salah satu alasan kenapa berhati-hati dalam memilih dan menentukan sikap saat ini. Untuk kembali menyusun pecahan-pecahan lalu bukan hal yang gampang, apalagi untuk kembali membuka dan menentukan jalan bersama seseorang. Melihat yang lalu udah menjadi sebuah kisah kemudian melihat ke arah kita yang masih mengharapkan tentu hal yang menyakitkan. Kenapa nggak mencari sebuah pengharapan baru ? toh berharap adalah salah satu cara agar kita yakin untuk suatu hal. Pengen sih tapi langsung muncul sebuah kata. Kecewa. Semua orang memang pernah kecewa dan kecewa membuat kita hidup dengan pnuh pengalaman serta pembelajaraan supaya lebih baik kedepan. Tapi yang membuat nggak enak dari kecewa adalah ketika kita harus bangkit kembali sendirian. Ketika kita harus menerima dan memutuskan sendirian. Ketika kita harus menahan dan menghadapinya secara sendirian.
Biarkan sebuah pengharapan baru datang dengan sendirinya. Datang dengan cara yang nggak terduga. Datang dengan cara spesial yang Tuhan kirimkan. Dan semoga dia yang datang adalah seseorang yang menganggap kita adalah sebagian dari dunia nya.
Biarkan sebuah pengharapan baru datang dengan sendirinya. Datang dengan cara yang nggak terduga. Datang dengan cara spesial yang Tuhan kirimkan. Dan semoga dia yang datang adalah seseorang yang menganggap kita adalah sebagian dari dunia nya.
Minggu, 22 Januari 2012
Sejarah Terciptanya Boneka Cantik - BARBIE
Sejarah boneka memang manarik untuk diketahui, apalagi ketika kita membicarakan sejarah permainan Barbie. Boneka perempuan cantik dengan kaki panjang ini muncul sekitar tahun 1945 dari sebuah keluarga pecinta boneka. Keluraga ini terinspirasi dari putrinya yang suka memainkan boneka kertas. Kemudian sang Ibu yang bernama Ruth Handler merasa kasian dengan anaknya bernama Barbara Handler yang selalu sedih ketika boneka kertasnya robek. Oleh karena itu, sang ibu ingin menciptakan mainan baru agar permainan boneka anaknya bisa bertahan lama.
Maka dibuatlah sebuah boneka perempuan cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Kaki dan lengan panjang sehingga boneka tersebut tampak ramping dan sempurna. Bentuk badan Barbie dipercaya sebagai bentuk badan idealnya kaum hawa dalam ukuran miniatur. Oleh karena itu, banyak model perempuan yang menginginkan bentuk badan layaknya Barbie.
Barbie mulai diproduksi tahun 1945 oleh perusahaan boneka milik keluarga Handler, yang bernama Mattel Toy Company di Amerika Serikat. Boneka tersebut diberi nama sesuai dengan nama anak perempuan keluarga Handler, yaitu Barbara. Hanya nama belakangnya diubah menjadi Barbara Millicent Robert, yang biasa dipanggil Barbie.
Keluarga Handler
Sontak, boneka cantik ini langsung meledak di pasaran. Hampir semua anak perempuan di dunia menyukai boneka cantik itu. Diproduksilah lebih banyak boneka Barbie dan dimpor ke seluruh dunia bahkan sampai ke nagara-negara Timur Tengah.
Dari sanalah model Barbie pun berkembang menjadi semakin modern dari mulai model baju sampai model rambut. Bahkan Jepang sangat antusias untuk memproduksi model-model baju Barbie, dari mulai baju renang, baju hangout, baju kerja, sampai baju tidur pun mereka desain untuk si Barbie yang cantik ini.
Pada 1961, perusahaan boneka Mattel Toy Company meluncurkan boneka pria untuk pasangannya barbie karena kasian si Barbie tidak punya pasangan hidup. Boneka pria ini didesain oleh Barbara Handler, anak perempuan yang menjadi inspirasi boneka Barbie. Dia ingin menciptakan boneka pria dan diberi nama Ken. Nama seorang pria pujaan Barbara handler waktu SMA. Sayangnya pria tersebut tidak mencintai Barbara. Oleh karena itu, Barbara mengabadikan cintanya dalam bentuk boneka dan menjadi pasangannya Barbie.
Sampai sekarang boneka Barbie dan Ken menjadi abadi dan masih banyak pecandunya, terutama anak-anak perempuan. Bahkan permainan boneka Barbie modern sudah seperti miniatur kehidupan manusia normal. Barbie yang lajang tersebut mempunyai rumah yang didesain dengan kamar tidur, ruang tamu juga ada dapurnya.
Model bajunya juga banyak dengan harga yang lumayan mahal. Pokoknya kehidupan Barbie harus sempurna. Dia cantik, kaya dan punya pacar yang tampan dan kaya raya pula. Inilah dunia imajiner kehidupan manusia yang mendambakan kehidupan yang sempurna seperti kehidupan Barbie.
via : http://www.apasih.com
Maka dibuatlah sebuah boneka perempuan cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Kaki dan lengan panjang sehingga boneka tersebut tampak ramping dan sempurna. Bentuk badan Barbie dipercaya sebagai bentuk badan idealnya kaum hawa dalam ukuran miniatur. Oleh karena itu, banyak model perempuan yang menginginkan bentuk badan layaknya Barbie.
Barbie mulai diproduksi tahun 1945 oleh perusahaan boneka milik keluarga Handler, yang bernama Mattel Toy Company di Amerika Serikat. Boneka tersebut diberi nama sesuai dengan nama anak perempuan keluarga Handler, yaitu Barbara. Hanya nama belakangnya diubah menjadi Barbara Millicent Robert, yang biasa dipanggil Barbie.
Keluarga Handler
Sontak, boneka cantik ini langsung meledak di pasaran. Hampir semua anak perempuan di dunia menyukai boneka cantik itu. Diproduksilah lebih banyak boneka Barbie dan dimpor ke seluruh dunia bahkan sampai ke nagara-negara Timur Tengah.
Dari sanalah model Barbie pun berkembang menjadi semakin modern dari mulai model baju sampai model rambut. Bahkan Jepang sangat antusias untuk memproduksi model-model baju Barbie, dari mulai baju renang, baju hangout, baju kerja, sampai baju tidur pun mereka desain untuk si Barbie yang cantik ini.
Pada 1961, perusahaan boneka Mattel Toy Company meluncurkan boneka pria untuk pasangannya barbie karena kasian si Barbie tidak punya pasangan hidup. Boneka pria ini didesain oleh Barbara Handler, anak perempuan yang menjadi inspirasi boneka Barbie. Dia ingin menciptakan boneka pria dan diberi nama Ken. Nama seorang pria pujaan Barbara handler waktu SMA. Sayangnya pria tersebut tidak mencintai Barbara. Oleh karena itu, Barbara mengabadikan cintanya dalam bentuk boneka dan menjadi pasangannya Barbie.
Sampai sekarang boneka Barbie dan Ken menjadi abadi dan masih banyak pecandunya, terutama anak-anak perempuan. Bahkan permainan boneka Barbie modern sudah seperti miniatur kehidupan manusia normal. Barbie yang lajang tersebut mempunyai rumah yang didesain dengan kamar tidur, ruang tamu juga ada dapurnya.
Model bajunya juga banyak dengan harga yang lumayan mahal. Pokoknya kehidupan Barbie harus sempurna. Dia cantik, kaya dan punya pacar yang tampan dan kaya raya pula. Inilah dunia imajiner kehidupan manusia yang mendambakan kehidupan yang sempurna seperti kehidupan Barbie.
via : http://www.apasih.com
Rabu, 18 Januari 2012
How I Meet You
Saat ini saya sedang berada dalam keadaan pusing tujuh keliling. Salah satu mata kuliah yang saya nggak ngerti baik dari dosennya ataupun mata kuliah yang beliau ajarkan sampai sistem nilai. Semuanya nggak bisa saya pahami. Udah terlalu pusing saya memikirkan sampai pada akhirnya saya menjadi sangat amat malas untuk memikirkannya lagi. Dalam keadaan galau, saya berhasil menemukan kembali sebuah buku yang sudah saya beli sejak SMA. Buku terbitan dari seorang penulis yang bernama Raditya Dika berjudul Marmut Merah Jambu.
Ada salah satu bab di dalam buku itu yang saya suka. Judulnya How I Meet You. Not Your Mother. Kisah tentang Raditya Dika sendiri bertembu dengan mantan kekasihnya, Sherina Munaf.
Isinya sih begini :
Bagaimana dua orang bisa bertemu dan jatuh cinta ? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah, mereka satu kelas di tempat les, atau sang guru membuat mereka duduk di satu meja. Bagi sebagian yang lain, tidak sesimpel itu. Bisa saja mereka bertemu di sebuah acara di sebuah acara pentas seni, ketika si cowok sedang mau jalan ke dalam, bertemu si cewek, bertukeran pandangan, dan dikenalkan oleh temannya ke cewek tersebut. Bahkan gue pernah liat sendiri, ada yang bermula dari duduk di bioskop 21, tidak sengaja bertanya tentang jam, lanjut ngobrol, dan akhirnya malah lanjut makan bareng. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks. Tidak ada yang tahu pasti kapan soulmate bisa datang.
Di sinetron, ketemuan dengan soulmate dibuat sangat gampang. Ada satu episode yang gue tonton, di mana si cowok ketemuan sama si cewek pas lagi tabrakan di mall. Mereka tabrakan. Si cowok mangap, si cewek ikutan mangap, pasang lagu D'Masiv, 60 episode kemudian mereka kawin di sebuah pesta dengan make-up berlebihan (biasanya ditambah dengan adegan mantan pacar si cewek ada di luar pesta nikahan, nangis dibawah hujan, sambil teriak "Tidaaaak!"). Seperti lazimnya kita tahu, tabrakan-lalu-kawin ini sering banget dipakai, malah hampir pasti ada di semua sinetron. Now, gue sering banget tabrakan sama orang, dan kalau tabrakan sama orang bisa membuat orang kawin, kayak di sinetron-sinetron itu, mungkin gue udah ratusan kali kawin-cerai.
Sinetron bukan hanya membuat bertemu orang sangat gampang, mereka bahkan membuat seolah-olah orang memang gampang dengan mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, pada situasi apapun. Ada satu adegan sinetron lagi yang gue inget, di mana si cowok lagi nyetir mobil malem-malem, dan si cowok gak ngeliat ada si cewek lagi nyebrang. Brak! Si cewek ketabrak sampe mental berdarah-darah. Si cowok turun dari mobil, nyamperin si cewek yang terkapar, dia memegang tangan si cewek, lalu sebelum sempet ngomong apa-apa, si cowok yang sedang memandangi si cewek dengan gaya slow motion dan ada voice over si cowok- malah membatin: 'Wah, dia cantik sekali'. Gue yang waktu ini nonton cuma bisa mikir: Dia cantik sekali ? Woi, itu orang lagi sekarat ! Bentar lagi dia muntah darah, Nyet! Kalo gue nabrak cewek pake mobil sampai mental berdarah-darah, gue bukannya mikir 'dia cantik sekali' tapi gue bakalan mikir 'astaga! Mbak! Tetalpah hidup, Mbak!'.
Pada kehidupan nyata (kehidupan yang tidak absurd seperti sinetron di mana orang tidur aja pake make-up) bertemu dengan the one sangatlah susah. Jangankan untuk pacaran, untuk kenalan aja sekarang susahnya minta ampun. Tapi, begitu ketemu, kemungkinan besar kita tahu bahwa kita telah menemukan orang yang tepat untuk dipacari.
Gue sangat suka mendengarkan cerita tentang bagaimana orang pertama kali bertemu, cerita untuk dibagi dengan anak-cucu: "Dulu kakek-nenek bertemu sewaktu dikenalin temen di sutu pesta ulang tahun" , atau "Dulu kakek ketemu nenek pas lagi ngantri ATM" , atau kalau mau ala sinetron: "Dulu kakek ketemeu nenek kamu pas kakek lagi nyetir sambil mabok dan nenek kamu hampir mati kehabisan darah" . Cerita bagaimana sepasang kekasih ketemu selalu hal yang menarik untuk didengarkan. Bagaimana semesta bisa berkonspirasi hingga dua orang bisa actually ketemu memang mendekati keajaiban
Bacaan diatas sangat menarik buat orang seperti saya. Orang yang masih jauh dari the one - nya. Sekian :)
Ada salah satu bab di dalam buku itu yang saya suka. Judulnya How I Meet You. Not Your Mother. Kisah tentang Raditya Dika sendiri bertembu dengan mantan kekasihnya, Sherina Munaf.
Isinya sih begini :
Bagaimana dua orang bisa bertemu dan jatuh cinta ? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah, mereka satu kelas di tempat les, atau sang guru membuat mereka duduk di satu meja. Bagi sebagian yang lain, tidak sesimpel itu. Bisa saja mereka bertemu di sebuah acara di sebuah acara pentas seni, ketika si cowok sedang mau jalan ke dalam, bertemu si cewek, bertukeran pandangan, dan dikenalkan oleh temannya ke cewek tersebut. Bahkan gue pernah liat sendiri, ada yang bermula dari duduk di bioskop 21, tidak sengaja bertanya tentang jam, lanjut ngobrol, dan akhirnya malah lanjut makan bareng. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks. Tidak ada yang tahu pasti kapan soulmate bisa datang.
Di sinetron, ketemuan dengan soulmate dibuat sangat gampang. Ada satu episode yang gue tonton, di mana si cowok ketemuan sama si cewek pas lagi tabrakan di mall. Mereka tabrakan. Si cowok mangap, si cewek ikutan mangap, pasang lagu D'Masiv, 60 episode kemudian mereka kawin di sebuah pesta dengan make-up berlebihan (biasanya ditambah dengan adegan mantan pacar si cewek ada di luar pesta nikahan, nangis dibawah hujan, sambil teriak "Tidaaaak!"). Seperti lazimnya kita tahu, tabrakan-lalu-kawin ini sering banget dipakai, malah hampir pasti ada di semua sinetron. Now, gue sering banget tabrakan sama orang, dan kalau tabrakan sama orang bisa membuat orang kawin, kayak di sinetron-sinetron itu, mungkin gue udah ratusan kali kawin-cerai.
Sinetron bukan hanya membuat bertemu orang sangat gampang, mereka bahkan membuat seolah-olah orang memang gampang dengan mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, pada situasi apapun. Ada satu adegan sinetron lagi yang gue inget, di mana si cowok lagi nyetir mobil malem-malem, dan si cowok gak ngeliat ada si cewek lagi nyebrang. Brak! Si cewek ketabrak sampe mental berdarah-darah. Si cowok turun dari mobil, nyamperin si cewek yang terkapar, dia memegang tangan si cewek, lalu sebelum sempet ngomong apa-apa, si cowok yang sedang memandangi si cewek dengan gaya slow motion dan ada voice over si cowok- malah membatin: 'Wah, dia cantik sekali'. Gue yang waktu ini nonton cuma bisa mikir: Dia cantik sekali ? Woi, itu orang lagi sekarat ! Bentar lagi dia muntah darah, Nyet! Kalo gue nabrak cewek pake mobil sampai mental berdarah-darah, gue bukannya mikir 'dia cantik sekali' tapi gue bakalan mikir 'astaga! Mbak! Tetalpah hidup, Mbak!'.
Pada kehidupan nyata (kehidupan yang tidak absurd seperti sinetron di mana orang tidur aja pake make-up) bertemu dengan the one sangatlah susah. Jangankan untuk pacaran, untuk kenalan aja sekarang susahnya minta ampun. Tapi, begitu ketemu, kemungkinan besar kita tahu bahwa kita telah menemukan orang yang tepat untuk dipacari.
Gue sangat suka mendengarkan cerita tentang bagaimana orang pertama kali bertemu, cerita untuk dibagi dengan anak-cucu: "Dulu kakek-nenek bertemu sewaktu dikenalin temen di sutu pesta ulang tahun" , atau "Dulu kakek ketemu nenek pas lagi ngantri ATM" , atau kalau mau ala sinetron: "Dulu kakek ketemeu nenek kamu pas kakek lagi nyetir sambil mabok dan nenek kamu hampir mati kehabisan darah" . Cerita bagaimana sepasang kekasih ketemu selalu hal yang menarik untuk didengarkan. Bagaimana semesta bisa berkonspirasi hingga dua orang bisa actually ketemu memang mendekati keajaiban
Bacaan diatas sangat menarik buat orang seperti saya. Orang yang masih jauh dari the one - nya. Sekian :)
Langganan:
Postingan (Atom)


